Kamis, 14 Agustus 2014

CERITA ANAK Keinginan Didi Didi , beruang kecil berwarna cokelat, mempunyai banyak teman . Didi sangat ramah, suka menolong, dan periang. Banyak hewan yang suka bermain kerumah Didi. Disana, Ibu Didi selalu menyiapkan hidangan yang lezat. Tidak ketinggalan madu istimewa untuk minum. " Iti , hari ini maukah kau mengajariku terbang ?" tanya Didi pada Iti, burung merpati sahabatnya. Ibu Didi sangat terkejut, sedangkan Iti hanya diam. " Mana mungkin Didi, kau tidak punya sayap seperti Iti," ucap Ibu Didi. " Mungkin saja Ibu, asal aku mau berusaha belajar. Aku ingin bisa terbang seperti Iti, bisa melompat seperti Ata katak hijau, dan berenang seperti Dudu ikan mas. Aku ingin bisa melakukan semua hal yang dilakukan oleh teman-temanku," jawab Didi. Satu hal yg tidak disukai teman-teman Didi adalah keinginan Didi. Teman-teman Didi merasa keinginan Didi tidak mungkin. Didi diciptakan tanpa sayap dan tanpa insang. Akan tetapi, Didi tetap memaksa teman-temannya untuk mengajarinya. " Kalau aku melompat, kakiku selalu menekuk. Itu karena tubuhku sangat lentur dan ringan," ucap Ata si katak hijau. " Akhh... kenapa tidak bisa ? kakiku pegal, badanku sakit!" Didi mengeluh. " Tentu saja, karena kau tercipta bukan untuk melompat," Dudu si ikan mas menjawab. " Ayo, Dudu... ganti kau yang mengajari sekarang!" Didi memerintah. " Aduh... Didi, ini sudah kesepuluh kali aku mengajarimu. Tetapi selalu tidak berhasil." Dudu ganti mengeluh. " Terus... bagaimana ? Setiap kali belajar berenang hidungku kemasukan air. Mataku memerah dan sakit. Badanku sakit terantuk batu. Aku sudah berusaha mengikuti caramu," Didi mulai putus asa. " Lebih baik kau pulang saja Didi. Kau memang tidak akan berhasil," Iti mulai kesal dengan keinginan Didi. " Aku pasti akan berhasil," Didi berjalan pulang dengan wajah memar. Setiap hari, Didi belajar melompat, berenang, dan terbang. Setiap hari pula Didi merasa kesakitan. Badannya memar dan mulai demam. Ibu Didi khawatir dengan sakit Didi. Ibu Didi merasa harus menghentikan keinginan Didi yg tidak mungkin terjadi. " Didi... kita ini beruang. Beruang tidak punya sayap untuk terbang, tidak punya insang untuk berenang, dan badan kita tidak lentur seperti Ata si Katak Hijau," jelas Ibu Didi. " Kalau begitu, beruang bisa apa,Bu ? Apa menjadi beruang hanya diam dan tidak bisa melakukan apa apa ?" Didi bertanya. " Kita bisa berlari kencang, memanjat pohon dengan cepat. Gigi tajam kita bisa digunakan untuk melakukan pekerjaan apapun. Bulu bulu halus kita bisa melindungi kita dari udara dingin." " Apakah Ata si Katak Hijau bisa memanjat pohon ? Apakah Iti punya gigi tajam? Dan apakah Dudu bisa berlari ?" " Tentu saha tidak ! Karena Ata hanya bisa melompat, Iti tidak punya gigi tajam, dan Dudu hanya bisa berenang." Sejak saat itu, Didi semakin menjadi periang. Ia tidak lagi belajar terbang, berenang atau melompat. Didi suka memanjat pohon ketika melihat Iti bertengger di atas pohon. Didi suka bersembunyi di pepohonan ketika bermain petak umpet bersama para beruang kecil lainnya. Sahabat-sahabat Didi semakin sayang kepada Didi. Didi tidak lagi merasakan sakit di seluruh tubuhnya atau demam karena Didi telah mengetahui kelebihan dirinya sendiri. " Aku memang tidak bisa terbang, tapi lihat... aku bisa sampai di atas pohon seperti dirimu," Didi berbangga hati melihat Iti di sampingnya. " Tentu Didi, aku senang akhirnya kau tahu bahwa belajar terbang itu tidak mungkin," kata Iti senang melihat Didi bahagia.

Rabu, 13 Agustus 2014

Asal Usul Telaga Warna (Cerita dari Jawa Barat) Dahulu kala sebuah kerajaan berdiri di Jawa Barat. Kerajaan itu diperintah oleh seorang prabu yang arif bijaksana. Rakyatnya hidup sejahtera. Sayang sekali Prabu dan permaisurinya tidak dikaruniai keturunan. Bertahun-tahun mereka menunggu kehadiran seorang anak, hingga sang Prabu memutuskan untuk pergi ke hutan dan berdoa. Ia memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk memberinya keturunan. Seluruh kerajaan ikut bergembira ketika akhirnya doa Prabu dan Permaisuri dikabulkan. Permaisuri mengandung dan melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik. Puteri tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik. Karena ia puteri satu-satunya dan kelahirannya dulu begitu lama dinantikan, ia sangat dimanja. Semua keinginannya dituruti. Sekarang sang puteri sudah dewasa. Sebentar lagi ia akan berusia tujuh belas tahun. Rakyat kerajaan mengumpulkan banyak sekali hadiah untuk puteri tercinta mereka. Sang Prabu mengumpulkan semua hadiah dari rakyat dan berniat akan membagi-bagikannya kembali kepada mereka. Ia hanya menyisihkan sedikit perhiasan emas dan permata. Ia kemudian meminta tukang perhiasan untuk melebur emas itu dan membuatnya menjadi sebuah kalung permata yang indah untuk puterinya. Pada hari ulang tahun sang puteri, Prabu menyerahkan kalung itu. “Puteriku, sekarang kau sudah dewasa. Lihatlah kalung yang indah ini. Kalung ini hadiah dari rakyat kita. Mereka sangat menyayangimu. “ “Pakailah kalung ini, nak.” Rakyat kerajaan sengaja datang berduyun-duyun untuk melihat sang puteri pada hari ulang tahunnya. Mereka ingin melihat kalung yang sangat elok bertaburan batu permata berwarna-warni itu menghias leher puteri kesayangan mereka. Puteri hanya melirik kalung itu sekilas. Prabu dan Permaisuri membujuknya agar mau mengenakan kalung itu. “Aku tidak mau,’ jawab puteri singkat. “Ayolah, nak,” kata permaisauri, ia mengambil kalung itu hendak memakaikannya di leher puterinya.” Namun puteri menepis tangan permaisuri hingga kalung itu terbanting ke lantai. “Aku tak mau memakainya! Kalung itu jelek! Jelek!” jeritnya sambil lari ke kamarnya. Permaisuri dan semua yang hadir terpana. Kalung warna-warni yang indah itu putus dan permatanya berserakan di lantai. Permaisuri terduduk dan mulai menangis. Lambat laun semua wanita ikut menangis, bahkan para pria pun ikut menitikkan air mata. Mereka tak pernah mengira sang puteri dapat berbuat seperti itu. Tiba-tiba di tempat kalung itu jatuh muncul sebuah mata air yang makin lama makin besar hingga istana tenggelam. Tak hanya itu, seluruh kerajaan tergenang oleh air, membentuk sebuah danau yang luas. Danau itu sekarang tidak seluas dulu. Airnya nampak indah berwarna-warni karena pantulan warna langit dan pohon-pohonan di sekelilingnya. Namun orang percaya bahwa warna-warna indah danau itu berasal dari kalung sang puteri yang ada di dasarnya.Danau itu disebut Telaga Warna, letaknya di daerah Puncak, Jawa Barat.